Selasa, 12 November 2019

Perecanaan Berbasis Asset/Potensi

Sebuah Catatan Sederhana Tentang Pendekatan Berbasis Masalah dan Berbasis Potensi

Kabar Nuamuri (13/11/19)



Dalam penyusunan perencanaan pembangunan desa, terdapat banyak sekali pendekatan atau tools yang dilakukan untuk menyusun rencana pembangunan tersebut. 

Dalam regulasi yang tertuang dalam UU Desa, masih kental proses pendekatan perencanaan yang dilakukan berbasis masalah (yang lebih dominan) dibanding dengan potensi.

Ada banyak tools yang digunakan dan dalam kesempatan tersebut coba sedikit disajikan dengan pola perencanaan dengan pendekatan berbasis asset yang senyatanya perlu didorong lebih kuat dalam semua proses perencanaan hingga dalam pelaksanaan pembangunan di tingkat desa.

Pada pendekatan berbasis masalah, tahapan yang dilakukan antara lain: identifikasi masalah - analisa penyebab - analisa solusi - implementasi solusi, sementara individu/organisasi/masyarakat diasumsikan sebagai bagian dari sebuah masalah/persoalan, sedangkan dalam pendekatan berbasis asset dengan tahapan antara lain: memberi apresiasi dan menghargai apa yang dimiliki - membayangkan/memikirkan apa yang mungkin dilakukan - berdialog dan melakukan apa yang seharusnya dilakukan dan individu/organisasi/masyarakat diassumsikan sebagai aset/potensi.

Dari hal diatas, sangat jelas terlihat dimana terdapat dua assumsi tentang individu/organisasi/masyarakat yang salah satunya dianggap sebagai bagian dari masalah sedangkan yang lainnya dianggap sebagai aset/potensi.

Dalam pengalaman banyak individu dari para pegiat pemberdayaan masyarakat, kedua pola tersebut juga memiliki daya ledak yang sangat jauh berbeda. Ketika berangkat dari masalah dan/atau semuanya dianggap masalah, maka harapan untuk melaju cepat hanya menjadi harapan, karena akan selalu dan selalu berkutat dengan masalah dalam setiap pemikiran, keputusan, dan lain-lain, sehingga para pegiat pemberdayaan saat ini semakin banyak mengedepankan proses pendekatan aset sebagai pintu utama dalam setiap kegiatan mereka, mulai dari merancang  rencana, melaksanakan hingga melaporkan.

Dengan pendekatan berbasis potensi, harapan untuk mendongkrak partisipatif masyarakat akan sangat kuat, karena semua warga merasakan hal yang sama, dianggap sebagai suatu organ penting dalam pembangunan di pedesaan, sehingga dengan segala kemampuan yang dimilikinya akan berjuang bersama untuk membangun desanya.


Mengenal Potensi Desa

Dalam masyarakat desa, dari berbagai pengalaman, ketika melakukan penggalian masalah akan sangat cepat tersaji puluhan bahkan ratusan masalah yang berhasil dieskplorasi, tetapi ketika mencoba dibalikan untuk melakukan penggalian potensi, maka akan muncul sebuah stagnasi proses dimana banyak sekali misalnya warga yang terlibat, bingung dengan potensi dalam wilayah desanya.

Mengapa? Karena seyogyanya, dalam masyarakat kita telah terlalu lama terlena untuk selalu membicarakan masalah dibandingkan dengan membicarakan potensi yang dimiliki.

Oleh karena itu, dalam kesempatan tersebut, kita belajar untuk mengenal tentang beragam potensi dalam wilayah desa dengan Pentagonal Asset, antara lain:



Perlu sebuah kedalaman proses dalam menggali sebanyak mungkin potensi sumberdaya seperti gambar diatas dalam sebuah wilayah desa, sehingga dalam sebuah proses perencanaan, waktu untuk mendiskusikannya juga menjadi sangat panjang, karena harapan terbesar bukan hanya tergali semua potensi sumberdaya yang ada di desa tetapi lebih dari itu, dalam proses diupayakan sedemikian rupa agar warga desa benar-benar memahami dan sadar bahwa rill-nya ada begitu banyak potensi yang mereka miliki yang dapat digunakan sebesar-besarnya untuk pembangunan desa termasuk diri warga desa sendiri.

Membangun sebuah perencanaan juga sangat ditekankan kepada para pemangku kepentingan untuk tidak sekedar datang dan duduk berkumpul kemudian bertanya warga desa maunya apa, usulnya apa, tetapi bagaimana diupayakan sedemikian rupa untuk membangun komunikasi dua arah yang seimbang, yang muara akhirnya adalah bagaimana membangun pemahaman bersama tentang pentingnya sebuah perencanaan pembangunan desa, termasuk peran apa yang dapat dilakukan oleh masyarakat desa, bagaimana mereka dapat terlibat, apakah memungkinkan untuk membangun peluang swadaya melalui gotong-royong, dll, sehingga rasa kepemilikan akan rencana itu sendiri dapat tumbuh sangat kuat di dalam diri warga desa.

Akhirnya, dalam sebuah perencanaan, hendaknya harus berani untuk melakukan terobosan yang un-mainstream atau berani untuk berpikir "out of the box" dengan menggunakan tools yang lebih mengapresiasi warga desa, sehingga mimpi besar untuk sebuah perubahan dapat benar-benar tercapai.... Semoga.


Website Desa, Salah Satu Strategi Membangun Transparansi Pemerintah Desa

Kabar Nuamuri (13/11/19)


Hingga saat ini, masih sedikit pemerintah desa terutama di Nusa Tenggara Timur (NTT) serta secara khusus di Kabupaten Ende yang mulai berpikir untuk melakukan terobosan atau inovasi penting dalam mendorong kemajuan desanya.

Dalam beberapa kali diskusi termasuk dengan beberapa pemerintah desa seperti di Kecamatan Kelimutu maupun di Wolowaru, pemerintah desa masih sangat awam dengan informasi tentang pengembangan website desa.

Sebuah Contoh Website Resmi Desa (dermaji.desa.id) yang sangat aktif di Indonesia
Aduh pak, kami nanti tidak bisa membangun desa kami kalau mengembangkan website desa pak, kan anggarannya bisa ratusan juta itu pak, ungkap salah satu staff desa pada sebuah desa di Kecamatan Wolowaru pada jelang akhir tahun 2018. Kami bisa diprotes warga pak kalau tidak ada pembangunan, selain itu kami tidak ada yang ahli pada bidang itu, lanjutnya.

Sebuah ungkapan yang tentunya akan membuat terkejut siapapun yang paham akan issue tersebut jika mendengar jawaban seperti diatas. Tetapi tentu harus diambil hal positifnya, dan mungkin saja informasi yang justru sangat penting tersebut yang tidak sampai atau sebenarnya tidak pernah tersampaikan oleh pemangku kepentingan yang lebih tinggi misalnya dari pihak kecamatan atau DPMD Ende.

Desa sebagai sistem pemerintahan terkecil ternyata tidak di akui dalam penggunaan domain kepemerintahan yaitu go.id sesuai dengan Undang-undang dan Peraturan Kementrian Kominfo dan juga Kementrian dalam negeri. Sehingga dalam prakteknya banyak desa yang menggunakan domain or.id yang sebenarnya di gunakan oleh organisasi nirlaba. padahal pemerintahan desa jauh berbeda dengan organisasi nirlaba di indonesia sehingga berawal dari hal tersebut menjadikan desa-desa berinisiatif untuk mengusulkan domain khusus untuk desa yang diprakarsai desa-desa GDM (Gerakan Desa membangun) dan kemudian disepakati domain resmi pemerintah desa adalah desa.id dan saat ini telah dimanfaatkan/digunakan oleh ribuan desa di Indonesia.

Setiap Desa Wajib Memiliki Sebuah website/jaringan informasi, yang dalam hal ini telah tercantum dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa. Berikut kutipan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa yang mewajibkan Setiap Desa, memiliki Jaringan Informasi/Website:
UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA
BAB IX
PEMBANGUNAN DESA DAN PEMBANGUNAN KAWASAN PERDESAAN
Bagian Ketiga
Sistem Informasi Pembangunan Desa dan Pembangunan Kawasan Perdesaan
Pasal 86
(1) Desa berhak mendapatkan akses informasi melalui sistem informasi Desa yang dikembangkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.

(2) Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib mengembangkan sistem informasi Desa dan pembangunan Kawasan Perdesaan.

(3) Sistem informasi Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi fasilitas perangkat keras dan perangkat lunak, jaringan, serta sumber daya manusia.

(4) Sistem informasi Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi data Desa, data Pembangunan Desa, Kawasan Perdesaan, serta informasi lain yang berkaitan dengan Pembangunan Desa dan pembangunan Kawasan Perdesaan.

(5) Sistem informasi Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikelola oleh Pemerintah Desa dan dapat diakses oleh masyarakat Desa dan semua pemangku kepentingan.

(6) Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota menyediakan informasi perencanaan pembangunan Kabupaten/Kota untuk Desa.

Cukup jelas pada pasal 86 UU Desa seperti hal tersebut diatas, tetapi dalam realisasinya masih begitu banyak pemerintah desa yang awam akan tentang informasi tersebut.

Kembali kepada judul besar diatas, maka sudah menjadi sebuah keharusan dimana pemerintah desa untuk segera mengambil keputusan strategis dalam mengembangkan website desanya, yang memiliki manfaat dan dampak yang luar biasa terutama untuk mengenalkan desanya kepada publik, mulai dari tataran rencana induk desa hingga kepada laporan pertanggungjawaban pemerintah desa serta beragam informasi menarik yang terjadi dalam wilayah desanya.

Sebagai wahana untuk membangun transparansi publik, website desa dapat menjadi corong yang sangat tepat untuk dikembangkan oleh desa, dan persoalan teknis tentang bagaimana caranya, siapa yang mengembangkan (misalnya: web disain, dll) adalah hal nomor kesekian, yang sangat penting dalam hal ini adalah bagaimana komitmen pemerintah desa untuk mau mengembangkan website desa-nya.

Ada begitu banyak contoh di Indonesia yang dapat dijadikan sebagai sarana pembelajaran, terutama dari desa-desa yang telah mengembangkan website desa dengan domain resmi desa seperti misalnya: 
https://www.dermaji.desa.id/ dan berbagai desa lainnya di Indonesia.

Soal konten menarik seperti apa yang akan dikembangkan dan lain-lain, bisa dibangun melalui kesepakatan di dalam internal desa yang pada muara akhirnya, selain dapat dikenal luas, media website desa dapat menjadi media publikasi resmi dari pemerintah desa tentang semua hal yang terkait dengan pembangunan di desanya.

Sangat mudah syarat dan proses untuk mengajukan domain resmi kepada Kominfo RI, antara lain:
1. SK Kepala Desa
2. Surat Permohonan Pendaftaran Website Desa
3. Surat Kuasa Sebagai Staff Admin Website Desa
4. SK Perangkat Desa yang diberi kuasa

Proses verifikasinya juga sangat cepat dimana masa tunggu untuk mendapatkan domain (desa.id) sekira 17 hari dengan biaya pendaftaran hanya sebesar Rp. 55.000,-. Selanjutnya saat domain resmi desa telah diperoleh, berikutnya adalah merancang disain website desa yang menarik (untuk biaya webmaster harganya beragam) dan setiap tahun desa hanya menganggarkan untuk penyewaan hosting.

Jika telah memiliki website desa, maka pemerintah desa juga dapat melink-an dengan media sosial resmi desa seperti: twitter, instagram, facebook, serta membuat chanel youtube sendiri yang semuanya terintegrasi dengan website desa.

Mengembangkan website desa juga merupakan sebuah inovasi yang dapat dilakukan oleh pemerintah desa termasuk merancang sebuah sistem yang kemudian diintegrasikan dengan sistem informasi desa sebagai bagian dari proses menuju sebuah pelayanan yang prima sehingga setiap tahun tidak terjadi lagi pada saat pelaksanaan Bursa Inovasi Desa di tingkat kecamatan bukan lagi hanya datang sebagai peserta atau objek dalam bursa inovasi desa, tetapi datang sebagai subjek yang dapat mempresentasikan kemajuan desanya dengan website desa sebagai salah satu langkah inovatif desa selain produk-produk inovatif yang dihasilkan dari desa, karena sejatinya dalam kegiatan tersebut, produk inovatiflah yang ditampilkan, bukan lagi diskusi dengan pola kelas seperti yang terjadi di banyak tempat. 

Kita sudah memasuki masa revolusi 4.0 dan sudah sepantasnya pemerintah desa tidak ketinggalan, tetapi bagaimana menyikapinya dengan positif untuk kemudian ikut masuk dalam pusarannya, sebagai bagian yang tidak terpisahkan untuk membangun dan memajukan desa.

Semoga, kelak, desa tercinta Nuamuri juga akhirnya juga melakukan inovasi dalam mengembangkan website desa, sehingga desa yang juga memiliki potensi luar biasa tersebut dapat dikenal bukan hanya diseputaran kecamatan dan kabupaten, tetapi juga pada tingkatan regional, nasional bahkan dunia. 

Minggu, 10 November 2019

Warga Desa Nuamuri Kesulitan Akses Air Bersih


Kabar Nuamuri (11/11/2019)


Sudah beberapa bulan ini air tidak bisa sampai ke bak induk dan terpaksa harus dipotong pipanya pada area jalan yang menuju ke sawah di Dusun Nuamuri, ungkap seorang warga Desa Nuamuri saat menceritakan kesulitan mereka mengakses air bersih dalam beberapa bulan terakhir.

Warga desa menampung air bersih di Desa Nuamuri
Saya mencoba hitung waktu saat mengisi air pada jerigen 5 liter dan baru penuh sekitar 8 menit. Airnya sangat kecil, mungkin karena banyaknya pipa yang bocor pada wilayah di lembah Nuamuri, ungkap seorang warga lainnya.

Nuamuri dan air bersih adalah dua sisi yang saling terkait dan tak dapat terpisahkan. Berbeda dengan beberapa desa lainnya di Kecamatan Kelimutu, seperti di desa tetangga di Desa Nduaria dan Desa Koanara, sumber air di Desa Nuamuri berada di wilayah yang rendah seperti di Ae Se yang menjadi sumber air bagi areal persawahan di Desa Nuamuri, sedangkan sumber air menuju ke Bak Induk yang ada di Desa Nuamuri berada di pegunungan di Seberang Lembah dan berjarak sekira 4-5 km dari permukiman warga desa.

Sumber Air "AE SE" di Desa Nuamuri
Sejak beberapa periode kepemimpinan desa, akses air bersih merupakan salah satu issue utama yang selalu masuk dalam perencanaan desa hingga periode kepemimpinan kepala desa saat ini.

Air bersih sebagai bagian terpenting dan menjadi kebutuhan dasar manusia akan memberikan dampak pada banyak aspek jika aksesnya tidak tersedia bagi masyarakat, baik di pedesaan maupun di perkotaan, maka bisa berdampak pada banyak aspek lainnya termasuk kemiskinan (karena untuk kebutuhan air bersih layak konsumsi harus membeli dengan harga yang relatif tinggi).

Keberadaan sumber air bersih di Desa Nuamuri yang berada jauh dari permukiman telah coba dimaksimalkan dengan membuat bak penampung yang selanjutnya dihubungkan dengan pipa menuruni lembah hingga ke sungai di dasar lembah, kemudian melewati areal persawahan bertingkat dan menanjak hingga ke permukiman di Dusun Nuamuri selanjutnya dialirkan menuju ke Bak Induk yang terletak di Dusun Detuara. 

Selama ini lancar, tetapi beberapa bulan terakhir mengalami kesulitan dimana air tidak bisa sampai ke bak induk tetapi hanya sampai pada area terendah di Kawasan permukiman warga pada jalur menuju areal persawahan.
Ae Se, salah satu sumber di Desa Nuamuri yang mengairi areal persawahan warga
Pada tahun 2018/2019 telah dianggarkan oleh Pemerintah Desa Nuamuri untuk melakukan perbaikan jaringan perpipaan dari sumber air menuju ke bak induk, tetapi tekanan air yang sangat kuat akhirnya membuat jaringan pipa dari arah lembah dan sawah menuju ke permukiman warga pecah sehingga air yang sampai ke kampung debitnya sangat kecil.


Tantangan Teknis

Melihat hal tersebut, Pemerintah Desa juga telah mengupayakan untuk melakukan perbaikan dengan melakukan pengadaan pipa baru untuk pengganti pipa-pipa yang rusak (pecah).

Hal yang perlu dilakukan sebelum melakukan perbaikan sebenarnya adalah menghitung ulang debit air yang ada di bak penampung pada area sumber air (baik pada musim hujan maupun kemarau) serta kekuatan tekanan air saat turun ke arah lembah dan kemudian naik menuju ke permukiman warga desa. Mengapa harus dilakukan? Karena dengan mengetahui debit maupun kekuatan tekanan air, maka akan dapat diketahui kira-kira kualitas pipa seperti apa yang dibutuhkan, sehingga dapat meminimalisir resiko kerusakan/pecah dan untuk memenuhi hal tersebut dibutuhkan tenaga teknis professional yang ahli di bidangnya dan Pemerintah Desa dapat meminta petugas khusus sebagai advisor dari PDAM Ende, agar memberikan rekomendasi teknis dimaksud, sehingga perencanaan untuk perbaikan dapat dilakukan dengan matang.
Sumber air "AE SE" di Desa Nuamuri

Air Sebagai Kebutuhan Dasar

Infrastruktur Air, listrik dan jalan memiliki peranan penting dalam kehidupan dasar manusia. Selain itu, ketiga infrastruktur tersebut juga sebagai pendorong untuk sektor lain dalam kegiatan perekonomian suatu daerah.

Jalan merupakan salah satu infrastruktur yang dapat menghubungkan wilayah satu dengan wilayah lainnya sehingga dapat meningkatnya pertumbuhan ekonomi daerah tersebut.

Penggunaan listrik merupakan faktor penting dalam peningkatan perekonomian karena listrik merupakan penunjang kegiatan produksi manusia setiap harinya dan juga dapat memunculkan multiplier effect dengan hadirnya industri rumah tangga, dan lain-lain.

Sementara air bersih merupakan konsumsi untuk meningkatkan produktivitas ekonomi sehingga sangat berpengaruh penting dalam setiap kegiatan pertumbuhan ekonomi.

Menilik hal tersebut diatas, bagaimana jika kemudian akses terhadap air bersih tidak tersedia atau warga mengalami kesulitan untuk mengaksesnya?

Perlu sebuah perencanaan yang komprehensif ketika pemerintah sebuah desa seperti di Nuamuri, saat akan merancang penyediaan akses infrastruktur air bagi warga desanya. Selain debit dan jarak, fasilitas pendukung berupa kualitas perpipaan juga perlu diperhitungkan dengan cermat sehingga dalam satu kali penganggaran, tantangan tersebut minimal langsung dapat diatasi.

Dapat juga untuk mencoba menanalisa dan melakukan terobosan dengan mendatangkan ahli pada bidangnya untuk memetakan potensi air tanah yang ada di Desa Nuamuri dengan penerapan teknik geolistrik untuk mencari sumber-sumber air (tanah) baru yang diharapkan dapat menjadi jawaban atas kesulitan akses air bersih yang selalu dialami warga desa. Hal ini dirasa sangat perlu, karena juga terkait erat dengan ketahanan ekonomi masyarakat desa.

Seperti mayoritas wilayah di Nusa Tenggara Timur pada umumnya, Desa Nuamuri juga tidak dapat menghindarkan diri dari dampak kemarau panjang. Berbeda kasusnya dengan beberapa desa tetangga, pada saat musim kemarau, akan terjadi sebuah stagnasi/berhentinya proses produksi yang berdampak sangat besar bagi ekonomi warga, seperti area tanam sayuran akan berubah menjadi lahan tidur dan akan diusahakan kembali saat musim hujan tiba. Stagnasi produksi tersebut seyogyanya dapat menjadi bahan pemikiran dan diskusi bersama oleh para pemangku kepentingan di tingkat desa, sehingga dampak yang saban tahun selalu muncul tersebut dapat diatasi.

Sebagai desa dengan penghasilan utamanya adalah komoditas sayuran, maka kebutuhan air menjadi sangat penting agar lahan dapat terus menumbuhkan aneka komoditas sebagai penopang utama ekonomi warga. Dengan bertumbuhnya ekonomi warga (keluarga, red.), maka ekonomi desa secara keseluruhan akan dapat meningkat termasuk juga akan meningkatkan daya beli masyarakat desanya.

Untuk itu, maka menjadi sangat penting dan perlu menjadi sebuah prioritas pembangunan desa untuk dilakukan analisa lebih jauh dengan memetakan potensi sumber air tanah pada setiap sebaran areal pertanian warga (misalnya: dalam sebuah sebaran lahan tanaman sayuran ada berapa luasannya, berapa kk penggarap dan bagaimana dampak ekonomi serta dampak ikutannya yang terjadi jika tersedia air untuk penyiraman tanaman - untuk hal tersebut sangat mudah untuk dihitung dan sangat terukur), sehingga ketika merancang perencanaan tentang infrastruktur air, selain untuk pemenuhan kebutuhan akan air bersih untuk konsumsi warga, juga dapat diperhitungkan secara detail untuk penguatan ekonomi.


Sumber Air Su Dekat

Sudah beberapa bulan ini air tidak bisa sampai ke bak induk dan terpaksa harus di potong pipanya pada area jalan yang menuju ke sawah di Dusun Nuamuri, ungkap seorang warga Desa Nuamuri saat menceritakan kesulitan mereka mengakses air bersih dalam beberapa bulan terakhir.

Kembali pada tantangan (saya lebih suka menyebutnya sebagai tantangan dibanding menyebutnya sebagai masalah) akan akses air bersih bagi warga desa, perlu dibangun sebuah konsensus bersama untuk mengatasi tantangan tersebut dan beberapa hal penting yang dapat dilakukan antara lain:

a. Membangun mekanisme transparansi pembangunan dalam desa.

Kepercayaan terhadap para pemangku kepentingan di tingkat desa biasanya akan luntur ketika tidak dibangun keterbukaan kepada publik dalam intra desa. Oleh karena itu, perlunya duduk bersama secara partisipatif dalam merancang pembangunan infrastruktur air bersih menjadi hal yang tidak dapat ditawar, termasuk pada saat pelaksanaannya hingga tahapan pelaporannya (misalnya: berapa dana yang disediakan dan terpakai, spesifikasi pipa seperti apa yang diharapkan diadakan setelah Analisa debit air, tekanan air, dll, siapa yang menjadi penanggungjawab kegiatan (pada tingkat desa, peran TPK harus bisa dimaksimalkan), dimana pemesanan pipa dilakukan, bagaimana mekanisme pelaksanaannya, bagaimana pelaksanaan pekerjaannya: apakah swadaya atau gotong-royong, bagaimana cara pelaporarannya (melalui papan informasi desa, laporan melalui musyawarah bersama, melalui website desa dan media sosial desa, dst);

b. Memupuk dan Memperkuat Spirit Gorong-Royong

Kekuatan utama dalam pembangunan di tingkat tapak adalah partisipasi penuh dari masyarakatnya melalui mekanisme gotong-royong. Tetapi dewasa ini, nilai-nilai tersebut pada beberapa daerah mengalami kemunduran sebagai imbas keberadaan dana desa. Mengapa? Semuanya beranggapan, ah, sudah ada dananya, buat apa kita gotong-royong lagi, atau meminta dibayar untuk melakukan pekerjaan, dll (ditambah lagi jika pemerintah desa dalam hal ini sangat tidak transparan - maka penolakan masyarakat akan pola gotong-royong akan semakin kuat).
Nilai tersebut harus terus dipupuk dan diperkuat agar dapat menjadi kekuatan utama dalam setiap proses pembangunan desa (dengan catatan bahwa mekanisme transparansi di tingkat Pemerintah Desa juga dapat berjalan baik);

c. Mengembangkan Sistem PAM Desa 

Perlu dibangun diskusi yang partisipatif dan berkelanjutan agar dapat terbangun sebuah kesepakatan bersama dari seluruh warga dalam mengembangkan sistem PAM Desa, sehingga sebaran akses air bersih di masa mendatang dapat benar-benar terwujud dan dinikmati warga.
Metode iuran bulanan harus menjadi sebuah pertimbangan agar menjadi sebuah kesepakatan yang mengikat, yang bertujuan agar dapat dibentuk sebuah Lembaga pengelola yang dilengkapi dengan petugas teknis air bersih yang khusus bekerja dan melakukan pemantauan akan distribusi air bersih kepada seluruh warga;


Ketiga point diatas adalah hal-hal yang sangat sederhana yang dapat didorong bersama dan perlu dipastikan juga tentang pelibatan tenaga teknis yang paham pada bidangnya dan pemerintah desa harus berani untuk membuat alokasi khusus untuk mendatangkan petugas teknis yang dapat dijadikan sebagai konsultan atau sebagai advisor, sehingga apa yang dirancang dapat direalisasikan.

Melihat tantangan diatas, seluruh warga Desa Nuamuri diharapkan untuk secara bersama bersinergi dengan Pemerintah Desa mengupayakan agar apa yang menjadi harapan, dapat benar-benar terwujud, sehingga krisis air yang terjadi dapat segera teratasi dan hal-hal yang kurang baik dan sebelumnya sering terjadi, misalnya memotong atau membocorkan pipa yang melewati lahannya (untuk penyiraman tanaman sayuran) dapat diminimalkan atau bahkan tidak perlu terjadi lagi.

Gotong-royong harus didorong semaksimal mungkin dengan desa mengalokasikan anggaran dalam APB Desa dan masyarakat secara swadaya melakukan proses pemasangan pipa tentunya didampingi oleh petugas teknis yang kompeten.

Hendaklah warga desa juga tidak saling menyalahkan, baik antar warga sendiri maupun antar warga dengan Pemerintah Desa. Membangun diskusi secara massif antar warga dan pemerintah tanpa saling menyalahkan tentu akan memberikan hal positif untuk perkembangan Desa Nuamuri di masa mendatang.



----- bersambung-----

Perecanaan Berbasis Asset/Potensi

Sebuah Catatan Sederhana Tentang Pendekatan Berbasis Masalah dan Berbasis Potensi Kabar Nuamuri (13/11/19) Dalam penyusunan per...